GM Baru akan Jadikan Pelabuhan Panjang sebagai Buffer Priuk

LAMPUNG – General Manager (GM) Indonesia Port Corporation (IPC) atau yang dikenal dengan (Pelabuhan Indonesia) Pelindo II di Cabang Pelabuhan Panjang, Lampung, Drajat Sulistyo berniat jadikan Pelabuhan Panjang sebagai Buffer dari Pelabuhan Tanjung Priuk. Harapan Drajat, komoditi-komoditi yang ada di wilayah Sumatera, khususnya Sumatera bagian selatan bisa terbackup, tidak perlu ada transitment di Tanjung Priuk, sehingga biaya logistik bisa turun jauh.
“Lampung harusnya menjadi pelabuhan buffer dari Pelabuhan Tanjung Priuk. Sehingga komoditi-komoditi yang ada di wilayah Sumatera, khususnya di Sumatera bagian selatan ini, bisa terbackup, tidak perlu ada transitment, sehingga kos logistik ini bisa turun jauh,” tutur pria yang mendapatkan tujuh penghargaan karena keberhasilannya ketika satu tahun memimpin Pelabuhan Bengkulu ini di Kantor Pelindo II, Cabang Pelabuhan Panjang, Lampung, Sabtu (07/04/2018).
Untuk itu, kata Drajat, dibutuhkan integrasi dengan pembangunan proyek strategis nasional seperti jalan tol Trans Sumatera. Integrasi tersebut, lanjut Drajat, berupa akses jalan langsung yang menghubungkan Pelabuhan Panjang dengan jalan tol Trans Papua.
“Pengembangan Pelabuhan Panjang akan diintegrasikan dengan pembangunan proyek strategis nasional seperti jalan tol Trans Sumatera, berupa akses jalan langsung yang menghubungkan Pelabuhan Panjang dengan jalan tol tersebut,” lanjutnya.
Dengan adanya tol Trans Sumatera, imbuh Drajat, menjadi kesempatan semua komoditi bisa keluar tanpa harus jauh-jauh ke Tanjung Priuk. Pun, nanti ada yang harus ke Tanjung Priuk kemasannya sudah komoditi ekspor, misalnya, persetujuan ekspornya disini.
“Persetujuan ekspor barangnya disini, BIB nya disini, sehingga tidak menyulitkan Tanjung Priuk lagi untuk transitment dari domestik ke internasional,” jelas Drajat.
Selain itu, Drajat menambahkan, terkait integrasi tol Trans Sumatera, Pelindo II Panjang sudah diskusi dengan instansi terkait. Dikatakanya, semua instansi mendukung rencananya.
“Kami sudah diskusi dengan Bappeda, Menko Perekonomian, dan juga sudah gulirkan ke DPR RI komisi VI, diskusi dengan HAKA selaku pemegang konsesinya tol Sumatera. Dan pada prinsipnya semua mendukung,” imbuh Drajat.
Sebelumnya, pada Kamis (05/04/2018) lalu, Pelabuhan Panjang launching sistem informasi berbasis IT NPK-TOS (Non Peti Kemas Terminal Operating System) di RM. Begadang Resto Lampung. Sistem tersebut, kata Drajat, mempercepat dalam mengurus berbagai dokumen perizinan para pengguna jasa karena cukup mendaftarkan lewat sistem NPK-TOS.
“Mempercepat bongkar muat. Biasanya untuk kapal-kapal yang 30 ribu sampai 50 ribu itu bisa memakan waktu 4 sampai 5 hari. Kemarin (setelah menggunakan sistem NPK-TOS) sekarang hanya butuh waktu satu hari,” pungkasnya.

BAGIKAN